Tag Archives: permakultur

Membayangkan Punahnya Benih (dan Manusia)

kontributor: Ade Ubud – penyunting: Bekabuluh

Amankah sayur yang Anda konsumsi?
Amankah sayur yang Anda konsumsi?

Rajin makan sayur pasti sehat? Yakin? Kalau benihnya transgenik, pupuknya kimia, dan pestisidanya tak alami?

Bagi banyak produsen makanan pokok, sayur, dan buah-buahan, ketiga hal tadi merupakan satu paket ketika mereka ingin mendapatkan kuantitas produksi yang maksimal, bukan kualitas. Konsumen pun akhirnya hanya bisa memilih apa yang tersedia di pasaran, seolah tidak bisa menuntut para produsen makanan agar lebih bertanggung jawab. Padahal cara menghasilkan dan memproses makanan terkait dengan angka harapan hidup serta kualitas hidup manusia itu sendiri, dan hak prerogatif untuk berbelanja pun dipegang oleh konsumen. Continue reading Membayangkan Punahnya Benih (dan Manusia)

Sepucuk Surat Cinta Berwarna Hijau

(the English version can be read here)

P1070299

Kepada pemuda-pemudi Indonesia,

Menanam makananmu sendiri adalah sebuah pemberontakan. Kedengarannya keren ya. Butuh argumen yang meyakinkan? Begini…

Pada satu titik kemungkinan dalam sebuah skenario masa depan, pemerintah akan menganggap bahwa siapapun yang menanam makanannya sendiri, membuat kebun produktifnya sendiri, adalah seorang pemberontak. Argumen dimulai dengan fakta bahwa siapapun butuh makan. Bisnis-bisnis raksasa transnasional dan multinasional bermodal multitriliunan telah dibangun di atas kebutuhan ini. Berapa banyak fulus yang akan hilang dari kantong-kantong produsen, importir, dan eksportir makanan skala massal jika orang-orang tak lagi bergantung pada mereka? Pejabat-pejabat pemerintahan yang telah lama membekingi sistem ini, atau malah menjadi pemain aktif dalam industri ini, juga akan kehilangan banyak. Dan coba pikirkan segala macam pestisida dan herbisida berbahaya yang TIDAK akan dipakai di kebun-kebun kalian. Berapa banyak dolar yang akan hilang dari pendapatan pada produsen, importir, dan eksportir besar produk-produk tersebut? Begitu juga dengan benih-benih pusaka (heirloom seed). Simpan, bagi, dan tukarkan di lingkungan komunitas berkebunmu. Lihat apa yang akan terjadi pada para pebisnis benih hasil modifikasi genetis alias hibrida (genetically modified seed/GMO seed). Continue reading Sepucuk Surat Cinta Berwarna Hijau

Tips: Menara Cacing (Worm Tower)

Seorang ibu rumah tangga di Code mengeluh bahwa sampah di rumah serta di kampungnya tidak dikelola dengan baik oleh para pengumpul sampah. Dari semua jenis yang ada, sampah dapur bisa dibilang sangat mengganggu karena bau yang muncul dan serangga yang mengerumun. Menurutnya, memasukkan sampah dapur ke tempat kompos biasa juga kurang membantu karena alasan-alasan yang sama. Ditambah lagi Code merupakan kawasan pemukiman padat. Bau dan kerumunan lalat di satu rumah bisa menyebar ke mana-mana.

Kawan-kawan dari Permablitz Jogja menawarkan satu solusi sederhana.

menara cacing Continue reading Tips: Menara Cacing (Worm Tower)

Ayo Permablitz! (Panduan Singkat Gerakan Permablitz Lokal)

– disusun berdasarkan pengalaman Permablitz Jogja

– unduh versi PDF di sini

Apa itu permablitz?

Permablitz Jogja #4 di Batik Sogan
Permablitz Jogja #4 di Batik Sogan

Apa itu permablitz?

Di tengah kungkungan polusi udara dan air, kondisi tanah yang memburuk, (bahan-bahan) makanan tercampur zat-zat berbahaya, diperlukan keyakinan bahwa bersama-sama kita bisa menyehatkan alam demi menyehatkan diri. Dalam prosesnya, diperlukan pengetahuan, semangat bekerja (bersama), semangat berbagi, serta semangat untuk menjaga.

Muncullah orang-orang di satu kawasan yang peduli akan isu ini. Mereka berkumpul dan bergerak untuk membantu mengembalikan keseimbangan alam. Cara yang mereka ambil adalah mengubah lahan yang tidak produktif menjadi sumber pangan yang sehat dan selaras dengan alam. Satu lahan demi satu lahan, satu acara demi satu acara, beramai-ramai.

Continue reading Ayo Permablitz! (Panduan Singkat Gerakan Permablitz Lokal)

Permablitz Jogja #3: Kebun Rani (II)

after the blitz: kebun depan Rani. Photo: Rita Dharani

Di tengah sumpeknya kekuasaan yang terlalu maskulin, yang merajai setiap sudut kehidupan sehari-hari kita sekarang, ditambah pekerjaan harian saya yang selalu berhubungan banyak dengan dunia laki-laki, aktivitas berkebun seperti menyuburkan energi feminitas yang memberi keyakinan pada masa depan.

Kalau bukan karena “arisan berkebun” Permablitz Jogja dan semangat gotong royong, susah dibayangkan dalam sekejap saya punya kebun masif yang siap tanam. Buat kami, berkebun pangan tidak melulu bicara soal isu lingkungan, gaya hidup organik, kembali ke alam, konsep hijau, eksotisme bertani atau sok enviromentalist. Continue reading Permablitz Jogja #3: Kebun Rani (II)