Aman dalam Keanekaragaman

oleh Dr. Vandana Shiva – dimuat di The Asian Age, 10 September 2014

vandana shiva

Kita tengah dihadapkan pada dua krisis berskala satu planet — perubahan iklim serta kepunahan spesies. Cara-cara produksi dan konsumsi kita saat ini, dimulai sejak Revolusi Industri dan diperburuk oleh munculnya pertanian industri, telah berkontribusi pada kedua hal tersebut.

Jika tidak ada perbuatan nyata demi mengurangi gas-gas rumah kaca, kita dapat mengalami malapetaka meningkatnya suhu sebesar 4°C di akhir abad ini.

Namun perubahan iklim bukan hanya soal penghangatan global. Yang bisa muncul adalah meningkatnya kekeringan, banjir, badai, dan peristiwa-peristiwa cuaca ekstrim lainnya, sebagaimana telah kita saksikan di Jammu dan Kashmir tatkala lebih dari 200 jiwa melayang.

Ketika sebelumnya tak pernah melebihi 280 ppm (part per million) sampai adanya Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida saat ini berada pada 395 ppm. Nitrous oksida (N20) dan metana adalah gas-gas rumah kaca sebagaimana CO2, hanya saja lebih berbahaya. Menurut laporan Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCC), N20 memiliki potensi penghangatan iklim 300 kali lebih kuat daripada CO2, dan metana 20 kali lebih kuat. Emisi N20 dan metana telah meningkat secara dramatis akibat pertanian industri. N20 menyebar dari penggunaan pupuk-pupuk nitrogen sintetis, dan metana menyebar lewat peternakan-peternakan hewan penghasil susu, daging, serta telur.

Konferensi PBB di Leipzig tentang Sumber-sumber Daya Genetik Tumbuhan pada tahun 1995 menaksir 75 persen dari keanekaragaman hayati di seluruh dunia telah lenyap lewat pertanian sebagai akibat dari Revolusi Hijau dan peternakan industri. Musnahnya serangga-serangga penyerbuk serta organisme-organisme tanah yang bermanfaat merupakan dimensi lain dari merosotnya keanekaragaman hayati akibat pertanian industri.

Begitu terkaitnya perubahan iklim, pertanian, dan keanekaragaman hayati. Penggalakan monokultur serta meningkatnya penggunaan pupuk-pupuk kimia, digabung dengan penghancuran berbagai habitat, telah ambil peran dalam berkurangnya keanekaragaman hayati yang semestinya mampu menyerap gas-gas rumah kaca.

(Pertanian/perkebunan/peternakan) monokultur yang menggunakan kimia, yang kemungkinan gagalnya lebih besar dalam konteks iklim yang tidak stabil, bukanlah sistem yang dapat kita andalkan sama sekali untuk urusan pangan di masa-masa penuh ketidakpastian. Beradaptasi dengan perubahan iklim yang tak terduga membutuhkan keanekaragaman pada tiap tingkatan, dan sistem-sistem yang mengandalkan keanekaragaman hayati bukan saja lebih mampu menghadapi perubahan iklim, namun juga lebih produktif dalam hal hitungan nutrisi per ha.

Bukannya umat manusia tak sadar akan — atau tak mengambil langkah-langkah demi menghindari — perubahan iklim maupun krisis keanekaragaman hayati. Pada Earth Summit di Rio de Janeiro, 1992, komunitas internasional menandatangani dua persetujuan yang mengikat secara legal — UNFCC dan Konvensi PBB tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati. Kedua kesepakatan ini dibentuk oleh kesadaran dari ilmu-ilmu pengetahuan lingkungan yang menguat serta gerakan-gerakan lingkungan yang makin membesar. Yang satu merupakan tanggapan ilmiah atas dampak ekologis polusi yang muncul dari bahan bakar fosil, dan yang satunya lagi merupakan tanggapan ilmiah terhadap merosotnya keanekaragaman hayati akibat menyebarnya industri pertanian/perkebunan/peternakan monokultur yang menggunakan bahan-bahan kimia, serta polusi genetis yang diakibatkan oleh organisme-organisme hasil modifikasi genetis (GMO). Pasal 19.3 dalam Konvensi tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati memberikan semua kalangan pertimbangan akan perlunya, serta bagaimana cara membuat, sebuah protokol yang menyajikan prosedur-prosedur demi penggantian, penanganan, serta pemanfaatan organisme-organisme hidup yang telah dimodifikasi (LMO) oleh teknologi hayati yang kemungkinan memiliki dampak buruk bagi keanekaragaman hayati serta komponen-komponennya. Hal ini membawa kita pada penerapan Protokol Keamanan Hayati.

Keamanan Hayati secara ilmiah mengkaji dampak GMO terhadap lingkungan, kesehatan umum, serta kondisi-kondisi sosial-ekonomi, memastikan aktivitas-aktivitas pertanian serta sistem pangan dapat menjamin keberlanjutan sosial serta lingkungan. Sistem-sistem yang didasarkan pada pertanian ramah lingkungan mampu menjaga keanekaragaman hayati, meningkatkan kesehatan dan hitungan nutrisi per ha, menghadirkan ketahanan pangan, dan meningkatkan kemampuan kita dalam menghadapi perubahan iklim.

Akan tetapi sejak 1992, para penghasil polusi kelas kakap, yakni industri bahan bakar fosil serta pertanian industri yang menggunakan kimia (yang disebut pula industri bioteknologi), telah melakukan segala hal yang mampu mereka perbuat untuk mematahkan kesepakatan-kesepakatan internasional yang ilmiah dan mengikat secara hukum terkait lingkungan khususnya tentang perubahan iklim dan keanekaragaman hayati. Namun gencaran serangan mereka terhadap ilmu pengetahuan ekologis tidak memiliki dasar ilmiah serta tidak bertanggungjawab, sebab mereka telah menjorokkan kita semakin dekat kepada bencana serta menghalang-halangi adanya perubahan meski bukti-bukti ilmiah telah menunjukkan adanya cara-cara alternatif yang bisa berhasil.

Kita harus bergerak menjauh dari pertanian industri yang mengandalkan bahan-bahan kimia serta sistem pangan terpusat berbasis komoditas global yang telah turut menyebarkan gas-gas rumah kaca. Demi menggantikan industri pertanian/perkebunan/peternakan monokultur (termasuk yang mengandalkan benih-benih GMO) yang telah menghancurkan keanekaragaman, kita harus beralih ke praktik-praktik pertanian ramah lingkungan yang menjaga keanekaragaman hayati dan menjamin keamanan hayati. Peralihan menuju pertanian yang mengandalkan keanekaragaman serta ramah lingkungan menjawab krisis iklim dan krisis keanekaragaman hayati secara sekaligus, serta menjawab krisis pangan pula. Meskipun pertanian industri merupakan pemain utama dalam perubahan iklim sekaligus rentan terhadapnya, ada upaya dari industri bioteknologi untuk menggunakan krisis iklim sebagai kesempatan demi mempromosikan GMO serta menguatkan monopoli mereka atas berbagai benih lewat paten-paten yang didasarkan pada pembajakan hayati atas benih-benih yang tahan perubahan iklim, yang sesungguhnya telah dikembangkan oleh para petani dari generasi demi generasi. Namun, mengutip Einstein, “Kita tidak dapat memecahkan masalah dengan pola pikir yang sama yang telah memunculkannya.” Sistem-sistem terpusat yang didasarkan pada monokultur serta mengandalkan bahan bakar fosil, termasuk pertanian GMO, tidaklah fleksibel. Mereka tidak mampu beradaptasi dan berevolusi. Kita butuh kelenturan, ketahanan, serta kemampuan beradaptasi terhadap realitas yang telah berubah. Ketahanan ini muncul dari keanekaragaman. Keanekaragaman pengetahuan, ekonomi, dan politik inilah yang saya sebut Demokrasi Bumi.

Tahun ini Kashmir menghadapi tragedi sebagaimana telah dihadapi Uttarakhand tahun lalu. Ketika hujan dalam satu hari terjadi sebesar lima-kali curah normal, ini merupakan kejadian ekstrim. Inilah yang dimaksud dengan perubahan iklim. Jiwa menjadi taruhannya, dan hanyut serta tergenangi pula banyak desa, ladang, jalan, juga jembatan. Aktivitas manusia telah mengakibatkan berbagai bencana seperti yang terjadi di Kashmir. Perlu tindakan-tindakan nyata untuk mencegah bencana-bencana iklim semacam ini. Kita tidak bisa duduk membisu sebagai penonton sementara surga India di bumi menjadi “Surga yang Musnah.”

penulis adalah direktur eksekutif Navdanya Trust

diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Bekabuluh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s