Cerita dari Blitz Kebun Anis

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Kenalkan, ini Anis, salah satu pengurus Sanggar Anak Kampoeng Indonesia (SAKI), perkumpulan kreatif yang fokus pada perkembangan anak-anak di Code, Yogyakarta. Dalam beberapa bulan terakhir, Anis rajin mengikuti kegiatan-kegiatan “kebun kilat” alias permablitz, khususnya yang dilakukan sebagai kerjasama antara Permablitz Jogja dengan SAKI.

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Minggu, 22 Desember kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Perempuan di Indonesia, Permablitz Jogja mengadakan blitz-nya yang keenam (atau mungkin kedelapan, kami mulai bingung menghitungnya) di pekarangan belakang rumah keluarga Anis. Kegiatan ini merupakan lanjutan program “100 Menara Cacing untuk Code” yang ditawarkan oleh Permablitz Jogja sebagai solusi alternatif pengelolaan sampah organik rumah tangga di kawasan ini.

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Seperti umumnya terlihat di kawasan Code yang padat, rumah keluarga besar Anis memiliki lahan yang terbatas. Halaman belakangnya selalu digunakan untuk parkir kendaraan milik keluarga dan tetangga, untuk menjemur pakaian, juga sebagai tempat berkumpul keluarga dan lokasi bermain anak-anak. Meski begitu, Anis dan neneknya juga ingin punya kebun kecil tempat mereka bisa menanam cabe, tomat, terong, sawi, dan bawang.

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Blitz kali ini merupakan yang paling cepat dibandingkan yang sudah-sudah. Beberapa bahan seperti jerami dan kayu telah dikumpulkan berhari-hari sebelumnya. Jerami berasal dari sawah-sawah di Sewon, dan kayu-kayu disumbangkan oleh salah satu anggota tim penggerak Permablitz Jogja. Pada hari H, satu anggota lain membawakan ampas fermentasi beras sebagai sumber organisme aktif pengganti kotoran binatang. Pipa paralon untuk menara cacing pun hasil sumbangan. Untuk benar-benar membuat blitz kali “zero budget” alias tanpa membeli bahan apapun, batu bata serta bahan-bahan lapisan hijau dikumpulkan dari lingkungan sekitar.

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Blitz terasa meriah karena Astrid, Dalih, Rani, Odino, dan Anis sebagai bagian dari tim penggerak Permablitz Jogja didukung oleh kehadiran teman-teman baru. Janti Wignjopranoto, seorang penggiat raw food diet dari ibukota, ikut berkotor-kotor ria dan melaporkan kegiatan lewat media sosial. Takki dan Noval dari Purwokerto, serta Dee Jei dari Yogyakarta dan Aisen dari Bangka-Belitung datang untuk bersama-sama belajar sekaligus berjaringan. Semuanya hadir untuk mengalami sesuatu yang kami percayai: Berkebun organik itu menyenangkan, dan akan lebih menyenangkan apabila kita memulainya bersama-sama. Dari perbincangan-perbincangan kami, semakin terpupuk semangat untuk beralih ke cara hidup yang lebih sehat dan bertanggung jawab, secara bersama-sama pula.

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Berkebun dimulai dengan survei. Desain bedeng dibuat sederhana agar sesuai dengan ukuran lahan. Satu bedeng menggabungkan sekaligus sistem hugelkultur dan kebun lubang-kunci ganda (double-keyhole garden), dengan tiga menara cacing dipasang di salah satu sisi lubang kuncinya. Karena kemiripan bentuk, kami menyebutnya Desain Ngengat.

foto: Odin da Costa
foto: Odin da Costa

Lahan pun dibersihkan dari sampah plastik, puntung-puntung rokok, logam, maupun kaca agar kesehatan media tanam lebih maksimal. Batu bata utuh maupun pecahannya, yang banyak terdapat di sekitar pekarangan, kemudian disusun sebagai dinding bedeng. Menara-menara cacing serta kawat ayam (strimin) yang dibulatkan hingga berbentuk tabung lantas diposisikan untuk nantinya berfungsi sebagai titik pengomposan langsung (direct composting).

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Satu per satu lapisan-lapisan bahan organik disusun di dalam bedeng, mulai dari kayu-kayu besar, ranting, bambu, dedaunan hijau, jerami, kertas kardus, daun-daun yang sudah dikomposkan bersama kascing, tanah, serta tak lupa ampas fermentasi beras sebagai sumber organisme mikro aktif, sebuah eksperimen cara mengganti lapisan kotoran binatang. Sebelumnya, di kebun Pak Anang yang juga berada di Code, lapisan kotoran binatang diganti dengan air yang berasal dari kolam ikan.

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Berkali-kali warga yang lewat menanyakan apa yang sedang kami lakukan. Dan setelah bedeng selesai, seorang tetangga menawarkan lahannya untuk digarap bersama menjadi kebun obat-obatan, disusul oleh satu warga Code lain yang ingin memiliki kebun sayur. Dengan kedua tawaran itu, “100 Menara Cacing untuk Code” akan terus berjalan.

Dua minggu lagi, sembari menunggu lapisan-lapisan bedeng terurai, kebun baru Anis akan mulai ditanami. Beberapa anggota tim penggerak Permablitz Jogja telah melakukan seed saving dan eksperimen-eksperimen pembibitan. Selain untuk kebun-kebun sendiri, kami akan barter ataupun membagikan beragam benih dan bibit tersebut ke kebun-kebun hasil blitz atau kepada mereka yang sudah mulai berkebun organik di berbagai kawasan.

foto: Odino da Costa
foto: Odino da Costa

Tertarik untuk ikut program “100 Menara Cacing untuk Code“? Pantau jadwal kegiatan kami di kolom “Akan Hadir” di website ini. Kami juga menerima sumbangan bahan-bahan pembuatan bedeng dan menara cacing, alat-alat berkebun, benih, bibit, atau apapun yang dapat membantu suksesnya program ini.

Mari hijaukan lingkungan dan munculkan kebun-kebun produktif di sekeliling kita!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s