Sepucuk Surat Cinta Berwarna Hijau

(the English version can be read here)

P1070299

Kepada pemuda-pemudi Indonesia,

Menanam makananmu sendiri adalah sebuah pemberontakan. Kedengarannya keren ya. Butuh argumen yang meyakinkan? Begini…

Pada satu titik kemungkinan dalam sebuah skenario masa depan, pemerintah akan menganggap bahwa siapapun yang menanam makanannya sendiri, membuat kebun produktifnya sendiri, adalah seorang pemberontak. Argumen dimulai dengan fakta bahwa siapapun butuh makan. Bisnis-bisnis raksasa transnasional dan multinasional bermodal multitriliunan telah dibangun di atas kebutuhan ini. Berapa banyak fulus yang akan hilang dari kantong-kantong produsen, importir, dan eksportir makanan skala massal jika orang-orang tak lagi bergantung pada mereka? Pejabat-pejabat pemerintahan yang telah lama membekingi sistem ini, atau malah menjadi pemain aktif dalam industri ini, juga akan kehilangan banyak. Dan coba pikirkan segala macam pestisida dan herbisida berbahaya yang TIDAK akan dipakai di kebun-kebun kalian. Berapa banyak dolar yang akan hilang dari pendapatan pada produsen, importir, dan eksportir besar produk-produk tersebut? Begitu juga dengan benih-benih pusaka (heirloom seed). Simpan, bagi, dan tukarkan di lingkungan komunitas berkebunmu. Lihat apa yang akan terjadi pada para pebisnis benih hasil modifikasi genetis alias hibrida (genetically modified seed/GMO seed).

Ketika semua orang duduk manis dan cuma bisa memakan apa-apa yang tersedia di pasaran, ada stabilitas yang hendak dijaga oleh pemerintah agar kekuasaannya langgeng. Bisa jadi pemerintah serta orang-orang industri itu tidak peduli kalau yang kamu makan pelan-pelan meracunimu — livermu, jantungmu, darahmu, sistem reproduksimu (modal terciptanya generasi-generasi mendatang di keluargamu).

Jadi, kenapa tak goncang saja stabilitas itu dengan makan makanan sehat yang kamu tanam sendiri? Pasti bermanfaat kok. Toh pemerintah kita pemerintah memble. Tidak muak dengan berita-berita korupsi? Sapi impor. Kedelai hilang dari pasar-pasar. Harga cabe, bawang merah, dan bawang putih melonjak tiga hingga lima kali lipat. Hutan-hutan tropis dikikis demi kebun-kebun sawit. Garam impor untuk negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Apakah kita benar-benar sedang menuju krisis pangan? Kalau kita cuma bisa bergantung pada pemerintah, jawabannya tentu saja iya. Di skenario masa depan yang sangat mungkin terwujud ini, para pejabat serakah di pemerintahan negaramu akan mendorong pemberlakuan peraturan-peraturan yang menguntungkan mereka serta teman-teman mereka di industri kimia dan bio-genetika. Tentu saja ini harus dilawan. Berdemonstrasi di jalan dan menggabungkan kekuatan dengan para pemberontak lain memang keren dan perlu. Tapi kenapa tidak melakukan hal-hal itu sambil menjaga kesehatan diri dengan menanam makananmu sendiri, meskipun kelak hal itu melanggar hukum? Lebih bagus lagi kalau bisa mengajak kawan-kawanmu untuk turut serta, lalu bantu mereka membuat kebun-kebun produktif mereka sendiri, kemudian bergabunglah untuk membuat kebun atau hutan pangan komunitas.

(baca pula: Panduan Singkat Gerakan Permablitz Lokal)

Beritahukan juga kepada orang-orang di sekitarmu bahwa yang mereka beli dari pasar mungkin saja tak aman. Begini lho, di masa lalu, para pedagang di pasar tradisional menawarkan apa-apa yang mereka hasilkan sendiri. Dan pada masa itu kamu tidak perlu bertanya macam-macam, karena toh mereka tidak pernah mendengar atau menggunakan merk-merk kimia berbahaya. Untuk menyuburkan tanah, mereka menggunakan kotoran binatang. Mereka biarkan pohon-pohon di hutan-hutan menyediakan mulsa alami bagi tanah agar tanaman-tanaman pangan cukup nutrisi dan rumput-rumput tak tumbuh. Intinya, mereka memanfaatkan teknik-teknik bijak dalam menanam, menjaga, dan memanen apa yang akan mereka dan kamu makan, atau mereka cukup masuk hutan untuk memetik apa yang akan dijual. Semuanya adem ayem tentrem gemah ripah loh jinawi. Dan kamu tahu sendiri, betapa dulu buah-buahan terasa lebih manis, beras, jagung, dan ubi terasa lebih lezat, dibandingkan dengan yang biasanya kamu makan sekarang. Dan jika kamu sempat bertanya pada kakek-nenek atau para tetua di lingkunganmu, mereka bisa cerita bahwa tanaman-tanaman produktif di masa lalu lebih banyak macamnya. Ada ratusan varietas padi, jagung, kentang, dan kacang, misalnya. Apakah di masa sekarang para pedagang sadar pentingnya hal-hal tersebut? Kebanyakan tidak. Kita harus menginformasikan bahwa mereka sepatutnya tahu dari mana bahan-bahan makanan yang mereka jual berasal. Perlu juga mendesak para petani untuk kembali ke cara-cara tempo doeloe dalam bercocok tanam. Demi orang-orang yang memakan hasil panen mereka. Juga demi bumi ini. Atau setidaknya demi rasa tenang, supaya tak perlu kita khawatir apakah sisa bahan kimia yang tercampur dalam sarapan, makan siang, makan malam, dan segala cemilan bisa menyebabkan kanker.

Satu contoh saja. Apa merk herbisida alias pemusnah rumput paling terkenal di negara ini? Para petani akan bilang “rondap,” yang maksudnya Roundup, biasa disemprotkan ke rumput agar mati sebelum petani bercocok tanam. Roundup mengandung glifosat, yang menurut data-data eksperimen laboratorium berbahaya bagi kesehatan. Sebab, ia bekerja pada enzim-enzim manusia sebagaimana ia bekerja pada enzim-enzim tanaman: terjadi pemblokiran terhadap penyerapan mineral-mineral penting. Itu sebabnya rumput mati terkena Roundup: Tak ada nutrisi penting yang bisa diserapnya dari tanah. Ada pula unsur-unsur kadar rendah di dalam merk ini, seperti surfaktan POEA yang dapat mematikan sel-sel manusia, terutama pada janin.

Selama setidaknya empat puluh tahun, korporasi-korporasi kimia dan bio-genetika telah bekerjasama dengan pemerintah berbagai negara, meminta mereka memengaruhi para petani agar “mengacak-acak” tanaman-tanaman mereka — makananmu — menggunakan berbagai bahan kimia pembawa penyakit dan benih-benih hasil modifikasi genetis. Tujuannya adalah agar para petani — kemudian kita semua — menjadi bergantung pada produk-produk tersebut. Dengan benih-benih GMO, hasil panen mungkin berlimpah, tapi tanaman-tanaman itu menjadi lemah secara genetis terhadap beberapa hal, misalnya hama atau cuaca. Hal ini baik sekali untuk bisnis mereka, karena mereka punya merk-merk kimia yang bisa bikin tanaman kuat. Setelah beberapa kali panen, benih-benih yang sudah dimodifikasi secara genetis jadi lemah, tak bisa ditanam ulang. Ini juga bagus untuk bisnis mereka, karena para petani harus membeli lagi berbagai benih. Apalagi sudah ada hukum yang melarang penanaman benih yang berasal dari tanaman-tanaman hasil modifikasi genetis, karena setiap perubahan genetiknya telah dipatenkan. Bahan-bahan kimia merusak tanah pertanian? Datanglah mereka menawarkan pupuk-pupuk kimia serta peralatan canggih. Masih menggunakan jerami atau kotoran binatang untuk menyuburkan sawah, dan masih pakai kerbau untuk membajak? Mereka akan bilang itu sudah ketinggalan zaman, atau bahkan berbohong dengan mengatakan itu tidak produktif. Mereka berbohong, sebab sesungguhnya segala macam kimia berbahaya dan mesin-mesin berbobot berat itulah yang dalam jangka panjang membuat tanah keras dan kehilangan kesuburan.

Kawan-kawan, kami tahu kamu ingin sekali melihat kedamaian dan keadilan ditegakkan di bumi ini. Maka dari itu, ketahuilah bahwa ketidakadilan telah berkuasa lewat kebutuhan dasar kita untuk makan. Jika kita tidak mengubah cara hidup kita bersama-sama, yakni dengan kembali ke cara-cara yang selaras dengan alam, maka kamu dan kami telah kalah sebelum perang dimulai. Dan kami tahu, kamu tak mungkin sudi tumbang tanpa lebih dulu berjuang. Bukan begitu?

Advertisements

4 thoughts on “Sepucuk Surat Cinta Berwarna Hijau”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s