Permablitz Jogja #3: Kebun Rani (II)

after the blitz: kebun depan Rani. Photo: Rita Dharani

Di tengah sumpeknya kekuasaan yang terlalu maskulin, yang merajai setiap sudut kehidupan sehari-hari kita sekarang, ditambah pekerjaan harian saya yang selalu berhubungan banyak dengan dunia laki-laki, aktivitas berkebun seperti menyuburkan energi feminitas yang memberi keyakinan pada masa depan.

Kalau bukan karena “arisan berkebun” Permablitz Jogja dan semangat gotong royong, susah dibayangkan dalam sekejap saya punya kebun masif yang siap tanam. Buat kami, berkebun pangan tidak melulu bicara soal isu lingkungan, gaya hidup organik, kembali ke alam, konsep hijau, eksotisme bertani atau sok enviromentalist.

after the blitz: kebun depan Rani. Photo: Rita Dharani
after the blitz: kebun belakang Rani Photo: Rita Dharani
after the blitz: kebun belakang Rani. Photo: Rita Dharani

Saya selalu percaya perubahan itu dimulai dengan aksi langsung. Aksi langsung mesti dimulai dari individu-individu yang melakukan perubahan itu dari ruang domestiknya sendiri-sendiri, yang kemudian melebar pada skala yang sangat lokal—rumah, pertetanggaan, komunitas. Kami yakin arisan berkebun dan gerilya berkebun adalah soal membangun resistensi. Memukul balik konsumerisme, kejahatan korporasi, kapitalisme, dan mengupayakan kedaulatan pangan. Masyarakat desa terutama di Jawa punya kecenderungan besar berkembang meniru gaya hidup kota, maka di kota hal sebaliknya harus lebih banyak dilakukan. Permablitz Jogja berawal dan dibantu banyak dalam perkembangan eksperimentasinya oleh Bumi Langit Permaculture Centre. Simak pula tulisan Pohon Bintang tentang perubahan dari rumah dengan praktek berkebun pangan yang sudah berhasil dilakukan.

poster: “bertani adalah aksi langsung”

Malam itu, 16 Maret 2013, sebagian pekebun Permablitz Jogja bergerak ke utara, menginap di rumah saya supaya besok paginya bisa lebih awal memulai kerja kebun. Krisna, Astrid dan Bhumy, Dalih, Dino, Louisa, Tica, Yolan dan Mpok Ijah nongkrong sampai larut malam. Menghabiskan malam dengan menonton film dan video, bertukar bincang tentang kerja Permablitz Jogja, gerilya berkebun, dan pengalaman ini itu. Cekakak cekikik sampai menjelang pukul dua pagi, kemudian satu persatu pasukan berangkat istirahat.

malam sebelum “arisan berkebun” Photo: Rita Dharani

Beberapa persiapan yang dilakukan sebelum hari H adalah mencari dan mengontak individu-individu yang bisa membantu menyediakan sumber-sumber bahan berkebun di sekitar rumah saya, mengundang beberapa teman yang tinggal di daerah utara, dan mencari referensi bagaimana menciptakan vertical garden. Sayangnya karena pertimbangan rumah dan kebun yang kecil, kali ini kami tak bisa mengundang terlalu banyak teman.

Pagi tiba. Pukul 8 kami mulai sarapan. Dalih menghadap kebun dan mengumpulkan energi, yoga. Krisna menetapkan pola dan mulai mengajak diskusi soal desain kebun yang sesuai dengan kondisi kebun dan bayangan saya. Kami mulai bekerja. Tentang bagaimana seru, heboh, dan asyiknya kerja kebun plus kerja dapur Permablitz Jogja #3, silah baca ulasan Bekabuluh.

Krisna menggambar pola. Photo: Odino da Costa

Saya akan cerita sedikit tentang beberapa individu di sekitar rumah saya yang berperan penting menyediakan bahan-bahan berkebun untuk kami. Oleh seorang teman lama yang kebetulan tinggal bertetangga desa, saya dihubungkan dengan seorang bapak yang punya usaha ternak babi di desa Kloncoman-Pandowoharjo-Sleman. Si Bapak punya kebun bambu di belakang pekarangan rumahnya yang luas. Kebetulan Ia memang sedang memanen bambu untuk membuat rumah bambu penyimpan perkakas dan memperbaiki kandang babinya yang sudah rusak.

pekarangan rumah Pak Gun. Photo: Rita Dharani
perbaikan atap kandang babi. Photo: Rita Dharani
rumah bambu di pekarangan Pak Gun. Photo: Rita Dharani
peternakan babi di Kloncoman, Pandowoharjo, Sleman, Jogja Photo: Rita Dharani

Menurut Pak Slamet, bambu tidak boleh dipanen di sembarang waktu dan kondisi. Ada hari baik dan aturan memanen seturut kearifan lokal. Misalnya, bambu tak boleh ditebang pada saat bulan purnama. Karena bambu pasti berbubuk dan kalau dipakai akan rapuh. Induk dari bambu lancur (tunas bambu yang sudah tinggi tapi belum keluar daunnya) juga tidak boleh ditebang. Si empunya kebun bambu, atau orang yang membutuhkan panenan bambulah yang biasanya menentukan hari baik untuk memanen bambu.

Ada banyak sekali jenis bambu di Indonesia. Tapi di sekitar rumah saya, bambu yang banyak tumbuh dan sering dipakai masyarakat misalnya bambu petung, bambu apus, bambu wulung dan bambu legi. Bambu petung biasa dipakai sebagai gording/blandar, usuk, dan reng pada konstruksi atap rumah. Bambu legi untuk pagar bethék dan penopang tanaman rambat (lanjaran). Bambu apus dipakai untuk membuat kepang (anyaman bambu alas menjemur gabah), membuat bésék (kotak makan dari anyaman bambu) dan gedhék (anyaman bambu untuk dinding rumah). Bambu wulung biasanya buat lincak (kursi panjang dari bambu) atau perabot mebeler khas desa lainnya.

bambu petung dan bambu apus. Photo: Rita Dharani

Pak Slamet dan Pak Seto dari Desa Gawar-Pandowoharjo-Sleman membantu kami mengolah bambu apus. Pak Slamet sebenarnya bukan perajin khusus bambu, tapi sudah 10 tahun terbiasa mengerjakan bambu. Sehari-hari Ia bekerja serabutan, sesuai permintaan orang-orang yang membutuhkannya. Tapi pekerjaan yang paling sering dia lakukan antara lain mengerjakan bambu, membuat sumur dan septic tank, atau membantu pekerjaan di sawah, selain juga mengurus sapinya sendiri. Kadang-kadang juga kerja matun (memotong ranting-ranting pohon jati supaya bisa laju tinggi dan lurus tumbuh ke atas).  Pekerjaan mengolah bambu yang paling sering dia lakukan misalnya membuat kandang, membuat perlengkapan konstruksi rumah dan perlengkapan pertanian.

Ada beberapa alat yang sering dipakai orang Jogja untuk mengerjakan bambu. Untuk menebang, mereka memakai kampak, linggis, cangkul, pethél, dibantu dengan tali tambang. Untuk membersihkan ranting dan membelah bambu, mereka menggunakan bendo. Untuk memotong-motong penampang bambu, mereka menggunakan gergaji. Permablitz Jogja untuk pertama kalinya melakukan eksperimen di kebun skala kecil dan pertama kali pula menggarap kebun dengan variasi vertical garden dan raised bed garden. Bambu kami pakai untuk membuat rak persemaian benih, jalan setapak, juga tiang dan pathok untuk roda bekas yang saya pakai sebagai konstruksi tempat tanaman menjalar.

mengolah bambu. Photo: Odino da Costa
mengolah bambu dengan bendo. Photo: Paul Daley
mengolah bambu dengan pisau. Photo: Odino da Costa
memasang rak penyemaian bibit. Photo: Paul Daley
membuat konstruksi untuk tempat tumbuh tanaman rambat. Photo: Odino da Costa
bambu dipakai untuk jalan setapak. Photo: Rita Dharani

Kotoran sapi kami ambil di kompleks kandang sapi kelompok tani ternak Ngudi Makmur di Berkisan-Pandowoharjo-Sleman. Melalui Pak Tejo, seorang petani yang juga anggota kelompok tani tersebut kami juga mendapatkan jerami dari sawahnya. Ada sekitar 300an ekor sapi yang dilokalisir di kompleks kandang sapi kelompok ini. Pak Tejo turun temurun adalah keluarga petani. Dia berusaha sangat keras untuk tidak menjual sawahnya. Paling banter dia menyewakan lahannya pada orang lain untuk beberapa tahun. Pak Tejo mengaku bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana dan mengantar mereka hidup cukup karena usaha sambilannya membuat batu bata tradisional sejak tahun 80an. Karena tidak adanya keadilan bagi petani Indonesia, maka mengandalkan penghasilan sepenuhnya dari bertani menurutnya masih mustahil. Sekarang, di usianya yang sudah cukup tua, dia kembali banyak menghabiskan waktu untuk bertani dan beternak lagi, sambil bekerja di sebuah arena olahraga futsal.

mengambil kotoran sapi dari Kelompok Tani Ternak “Ngudi Makmur” Berkisan, Pandowoharjo, Sleman, Jogja. Photo: Rita Dharani

Satu karung butiran-butiran batok kelapa saya dapat dari mbak penjual es kelapa muda langganan saya yang berjualan di perempatan Kamdanen-Ngaglik-Sleman. Batok kelapa kami pakai untuk membuat pot gantung untuk sayuran yang menjuntai ke bawah. Ban-ban mobil bekas saya dapat dari rumah ibu saya. Dulu ban-ban ini sering dipakai sebagai ganjal lentur untuk bongkar muat barang-barang berat dari dan ke truk. Ban-ban bekas ini kami pakai untuk bikin raised bed garden. Dari kompleks perumahan saya sendiri, saya bisa meminjam gerobak pengangkut sampah untuk mengangkut tanah dan batu yang dibutuhkan untuk elemen raised bed garden.

butiran batok kelapa untuk pot gantung. Photo: Astrid Reza
ban bekas untuk raised bed garden. Photo: Astrid Reza
Dalih memakai gerobak sampah untuk mengangkut batu dan tanah. Photo: Paul Daley
pecahan keramik untuk mengisi lubang aliran air. Photo: Rita Dharani

Tanah kami dapat dari tanah galian rumah tetangga yang sedang dibangun. Beberapa batang kayu juga kami dapat dari bekas bongkaran rumah tentangga. Pecahan-pecahan keramik yang dipakai untuk elemen jalan aliran air, saya dapat dari limbah di pekarangan studio kerja saya. Kami belajar banyak dari mengolah kebun kecil yang tidak bisa lantas disepelekan begitu saja. Krisna mencatat hal-hal penting yang perlu diperhatikan pada kebun kecil adalah soal sistem aliran air dan ketrampilan membuat vertical garden. Mari berkebun pangan dan melihat sekitar rumah kita.

Advertisements

2 thoughts on “Permablitz Jogja #3: Kebun Rani (II)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s