Permablitz Jogja #1: The Genesis

Untitled

Ini adalah kebun Astrid. Kebun ini terletak di  daerah selatan Jogjakarta, dalam wilayah perkampungan Nitiprayan.

Astrid masih mengontrak rumahnya tetapi karena ketertarikannya dalam isu-isu berkebun tengah berkembang, ia ingin membuat kebunnya sendiri. Sebuah lahan dimana ia akan menanam sayurnya sendiri, bumbu dan rempah-rempah. Ia senang memasak dan ketika ia bisa memetik langsung cabe dari kebun sendiri adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Ia tidak suka membuang sisa makanan/sisa sampah dapur dengan sia-sia dan merasa harus mulai membuat komposnya sendiri.

Persoalannya ia tidak tahu harus mulai darimana.

Suatu hari ia memutuskan untuk mulai menanam benih di pot-pot. Cabe dan tomat dari pasar organik lokal. Murbei, basil, jeruk nipis dan bahkan daun sirih. Ia masih menatap halaman yang luas di depan rumah. Beberap pohon buah-buahan adalah alasan utama kenapa ia memilih untuk mengontrak rumah tersebut dari awal, rumah yang sudah menyelamatkannya dari  panas menyengat udara siang Jogjakarta. Tetapi sesuatu masih tidak terasa benar.

Kemudian sebulan lalu bersama Paul, tetangganya, dan juga Labodalih, sahabatnya, mereka berkunjungan seharian penuh ke Bumi Langit dimana Krisna, tukang sayur langganannya di pasar organik lokal, hidup di sebuah pusat permakultur yang dibangun sendiri oleh ayahnya, Iskandar Waworuntu. Percakapan berlangsung dan ide-ide bertebaran menginspirasi mereka untuk menggarap kebun Astrid bersama-sama.

Maka diputuskanlah bahwa kegiatan Permablitz  Jogja perdana akan dilangsungkan pada tanggal 10 Februari 2013.

This is Astrid’s Garden. It’s located in the Southern part of Jogjakarta, in the Nitiprayan village.

Astrid is still renting her place but the growing passion towards gardening grow and she decided that she wanted to do her own garden. A plot where she could plant her own vegetables, herbs and spices. She loves cooking and found that picking up her own chillies when she need some is very convenient. She hates throwing away extra food leftovers and felt the urge of making her own compost piles.

She just don’t know where to begin with.

One day, she decided to just start planting seeds in pots. Chillies and tomatoes from the local organic market. Mulberries, basil, lime and even betel leaves. She is still staring at the huge lawn in front of her house. Some huge fruits trees standing was the whole reason why she picked to rent the particular house in the first place, it had save her from the Jogjakarta afternoon heat. But something still does not feels right.

Then last month, along with Paul, her neighbour, and also Labodalih, her best friend, had a whole day visit to Bumi Langit where Krisna, her vegetable seller in the local organic market, lives in a permaculture centre set up by his father, Iskandar Waworuntu. Conversations sparks and inspire them to gather themselves to do Astrid’s garden together.

It was decided then, the genesis of Permablitz Jogja would start on the 10th February 2013. Untitled

Membuat daftar kebutuhan dan rencana desain kebun

Making the list of needs and design plan together

Untitled

Tanah bertekstur pasir

Sandy texture of land

Untitled

Target pertama kami, HORE!

Our first target, WOHO!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s